oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I
Sabtu, 5 September 2026, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama
(PRNU) Siantan Tengah akan menggelar Sholat Sunnah Istisqo` di Madrasah Nurul
Jadid, Pontianak. Sedangkan Majelis
Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Pontianak Utara, telah melaksanakannya
pada Hari Minggu, 30 Agustus 2026 bersama warga Pontianak Utara. Sholat sunnah
ini dilaksanakan untuk mengambil pahala kesunnahan yang diajarkan oleh Baginda
Nabi Muhammad SAW saat di satu tempat terdapat musibah kemarau panjang atau tak
turun hujan dalam waktu yang lama.
Akibat hujan yang
tak juga turun hingga tulisan ini dibuat, Kota Pontianak dan Daerah sekitarnya
terdampak musibah lainnya. Selain kekurangan air bersih, Pontianak dan
Daerah sekitarnya diselimuti kabut asap yang amat tebal. Kabut asap yang tebal ini dapat menyebabkan radang
tenggorokan, batuk-batuk, demam dan pilek. Bagi anak-anak, infeksi saluran
pernapasan menjadi akibat yang nyata. Oleh sebab itu, Pemerintah Provinsi
(Pemprov) Kalimantan Barat mengirim surat edaran agar seluruh sekolah untuk
melaksanakan pembelajaran secara daring; belajar di rumah. Dengan harapan,
anak-anak dan para remaja tetap sehat bugar, selamat dari ancaman asap.
Artinya, ketika kemarau terjadi di Pontianak, maka akan terjadi musibah
turunannya seperti Krisis air bersih dan Kabut Asap yang tebal.
Dua faktor itu
pun akan bertelur dan beranak-pinak menjadi sesuatu yang tentunya merugikan
mahluk hidup di dalamnya. Efek besar akan terasa. Krisis air bersih
menyebabkan warga berbondong-bondong mencari air. Jangankan yang gratis, yang dijual pun banyak yang
mengantri. Antrian akan menyebabkan kemacetan dan kecemasan. Kemacetan dan
kecemasan tentu akan meningkatkan rasa tak enak dan amarah besar. Sehingga
dapat diprediksi, peristiwa itu akan memunculkan ketidaknyamana, keangkuhan,
dan saling menyalahkan. Marah-marah pasti ada dan ketersinggungan pun akan
terarah. Akhirnya yang kita khawatirkan, saling adu mulut, saling sikut, saling
angkut, dan saling adu fisik kemungkinan dapat terjadi. Ini menurut saya efek
domino ketika terjadi krisis air bersih.
Sedangkan dampak
dari kabut asap yang tebal, sektor-sektor penting seperti sektor ekonomi, sektor
pendidikan, sektor pertanian, sektor penerbangan dan sektor lainnya terhambat.
Jika tak menghambat secara total, mungkin kecil kemungkinan terasa dan
berdampak pada beberapa kalangan. Anak-anak tak bebas berekspresi di luar; anak
SD sampai dengan SMA tak dapat belajar secara ideal; guru-guru harus membuat
perangkat baru yang sesuai; visi dan misis pemerintah kota dan daerah sementara
terhenti serta para dewan mauquf sejenak memusyawarahkan perundang-undangan
pentingnya.
Semua membutuhkan
atensi tapi tak sedikit yang memberi atensi. Individu, Organisasi
kemasyarakatan, Pemkot dan Pemda melalui perangkatnya bergerak bersama
beriringan mencari cara agar Hujan segera turun di Kota Pontianak. Jika boleh
meminta, biarlah seminggu ini digaji dengan hujan yang memberi manfaat dan
barokah untuk masyarakat Pontianak.
Dari sekian usaha
dan ikhtiar, ada organisasi islam terbesar yaitu Nahdlatul Ulama melalui MWCNU
Pontianak Utara dan PRNU Siantan Tengah mengajak warga masyarakat Pontianak
Utara bersama-sama untuk melaksanakan sholat Istisqo`. Sebelum melakukan sholat
istisqo`, pengurus mengirim hal-hal yang hendaknya dilakukan sebelum sholat.
Diantaranya bertaubat dari Segala Dosa, memperbanyak istighfar dan bertaubat
sungguh-sungguh kepada Allah SWT, memperbanyak Sedekah, membebaskan diri dari
Kezaliman, berdamai dengan Musuh, berpuasa tiga Hari Berturut-turut, meninggalkan
Perhiasan dan Wewangian: Tidak memakai wewangian/parfum (ghairu mutathayyibin)
dan tidak berhias bermewah-mewah (wa la mutazayyinin), memakai Pakaian
Sederhana (Thiyabu Bizlah) seperti menggunakan pakaian kerja/harian yang
sederhana dan bersahaja, bukan pakaian indah/pakaian Hari Raya, memelihara
ketundukan, kepasrahan, keheningan, dan perasaan butuh yang mendalam di hadapan
Allah SWT.
Selain itu jemaah
dianjurkan untuk mengajak ke lapangan anak-anak Kecil karena kepolosan dan
kesucian mereka yang belum tersentuh dosa; mengajak orang tua dan lansia:
Mengajak para sesepuh, kiai, serta lansia (pria/wanita) karena ketaatan,
kerendahan hati, dan kelemahan fisik mereka lebih dekat pada dikabulkannya doa
dan membawa Hewan Ternak jika memungkinkan sebagai wujud kasih sayang dan
permohonan hajat seluruh makhluk hidup akan rahmat air hujan dari Allah SWT.
Menurut saya, semua ikhtiar harus diupayakan. Menyediakan air bersih, membantu warga terdampak, dan berdoa. Semua niat dan tujuan baik saat situasi tak bersahabat dengan mahluk ini, harus dipupuk dan diajarkan kepada diri sendiri, anak dan sanak famili. Kehidupan di era modern ini manusia banyak dihiasi dengan sifat hedon cinta dunia dan takut mati; hidup segan mati tak mau. Perhatian dan kepeduliannya membeku akibat fakus menggapai cita-cita dunia. Dunia yang diinginkannya melupakan salah satu fakto mematikan hati yang memunculkan egois dan sombong; anti empati dan simpati.
Melalui ujian dan musibah yang melanda Kota Pontianak ini, kita dapat belajar bagaimana cara menata hati bersimpati dan berempati. Menelaah makna kebersamaan dan saling mengasihi menyayangi sesama. Bergerak bersama demi keselamatan semua. Allah SWT kembali mengajak kita semua sadar akan pentingnya makna beragama. Mengingat kembali tujuan manusia tercipta dan terlahir di dunia. (Holi)

Posting Komentar