oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I
Muhammad Said Ramadhan As`ary bin Holi Hamidin Bin Sudi Bin
Said Al-Sampangi, bertanya kepada ayahnya yang menjadi imam sholat sunnah
istisqo`. Sambil memegang Hp-nya, ia
bertanya, “orang kan butuh air bersih Bi, kok malah sholat?” katanya. Saya yang
mendengar ini menyimpulkan beberapa tujuan dan jawaban.
Menurut saya,
pertanyaan putra saya itu mengandung dua makna. Makna pertama, penolakan sebagai
bentuk protes; sedangkan makna kedua adalah mengkerdilkan makna sholat istisqo`
yang disimbolkan dengan kalimat ’orang kan butuh air bersih’. Yang
bermaksud dari kalimat itu adalah musibah ini hendaknya diatasi dengan
membagikan dan mencarikan air bersih kepada warga.
Namun demikian,
saya mengartikan pertanyaan putra pertama saya ini dengan pernyataan yang
memiliki tujuan supaya ayahnya yang lemah ini melakukan hal yang lebih konkrit
dan lebih bermanfaat yang kiranya dapat dirasakan dan berdampak oleh masyarakat.
Yang kedua, pertanyaan ini mengandung pengungkapan ketidak-tahuannya atau ia
benar-benar ingin mengetahui makna secara haqiqi sholat sunnah istisqo`.
Oleh karena itu pada saat itu juga dan saya jawab dengan dua jawaban pula
dengan pendekatan bil hikmah wal mauidhotul hasanah.
Jawaban pertama tentang mengapa sholat sunnah Istisqo`?
Jika itu yang
harapkan anak pertamaku Said. Tentu itu ide yang baik dan benar. Tentu saya
mengapresiasinya. Anak sekecil itu sudah memiliki simpati. Responsibility yang ada dalam dirinya
menunjukkan kemampuan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Ideologi yang
sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad tentang menjaga dan saling menghormati
antar sesama mahluk diterima dengan baik. Namun demikian, apa yang dilakukan
oleh Pengurus NU Pontianak Utara dan PRNU Siantan Tengah sudah sangat tepat.
Keterwakilan mereka sebagai ulama penerus baginda Nabi Muhammad SAW, sholat
sunnah istisqo` adalah pilihan yang paling baik dan benar. Sudah menjadi tugas
para ulama dan santri menjaga dan memegang teguh sunnah nubuwah yang diwariskan
oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.
Berdasarkan
dalil-dalil mutawattir yang berasal dari kitab-kitab mu`tabarah, memilih sholat
sunnah istisqo` ketika bumi telah lama tak diguyur hujan, lalu kemudian
memunculkan musibah-musibah berkelanjutan dan beraneka ragam, adalah pilihan
yang dipilih oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian dilanjutkan oleh para
sahabatnya dan para pengikut-pengikutnya sejak lama.
Itu artinya,
sholat sunnah istisqo` dilakukan sebagai bentuk penghambaan dalam melaksanakan
sunnah-sunnah baginda Nabi Muhammad SAW. Tentu pertanyaan kritisnya, ketika ada
yang mengkerdilkan penyelenggaraan sholat istisqo` saat telah lama tak turun
hujan, yaitu mengapa Nabi Muhammad SAW lebih menganjurkan sholat Istisqo`
ketimbang memerintahkan sahabatnya pada saat itu untuk menyiapkan air bersih?
Tentu Rasulullah SAW lebih memahami dan mengetahui.
Pertanyaan kedua
apa makna ajakan sholat Istisqo`?
Jika kita
menelaah anjuran-anjuran yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum sholat
istisqo` dan hikmah dibalik itu semua, maka kita menyadari makna yang
terkandung dari ajakan sholat istisqo tersebut. Jika boleh saya menyumbang
jawaban. Tentu ini berasal dari akal logika saya pribadi.
Ajakan untuk
melaksanakan sholat istisqo` itu ada dua makna. Pertama adalah bermakna
peringatan. Kedua adalah bermakna penyerahan diri/penghambaan. Ketiga adalah
bermakna persaksian akan sifat kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Yang dimaksud
makna peringatan maksudnya yaitu mengingatkan kita akan kekhilafan kita,
kelalaian kita, kesombongan kita, keangkuhan kita, kecerobohan kita, dan
kemalasan kita. Kekhilafan kita selama ini yang seakan-akan semua nikmat yang
kita nikmati adalah hasil jeri payah pribadi tanpa bantuan Allah. Kelalaian
kita pada tiap-tiap kewajiban. Kesombongan kita yang muncul karena kelebihan
yang kita miliki. Keangkuhan kita atas segala usaha dan ikhtiar yang dilakukan
hingga melupakan kewajiban. Kecerobohan pada tiap nikmat yang lupa disyukuri. Kemalasan
kita pada perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Yang dimaksud
makna penyerahan diri/penghambaan adalah taubatan nasuhaa. Kita kosongkan hati
dan pikiran kita serta perbuatan kita dari sifat-sifat tercela dan mengisinya
dengan sifat-sifat terpuji. Kita menyadari bahwa semua yang terjadi dan yang
akan terjadi adalah berkat kasih sayang Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud dari
makna persaksian akan sifat dan kekuasaan Allah SWT adalah menyadari bahwa
Allah adalah Tuhan yang Maha Esa sedangkan kita adalah seorang hamba yang
benar-benar lemah. Tak ada kekuatan dan kemampuan tanpa pertolongan Allah SWT.
Apa yang terjadi adalah atas idzin Allah. Kita sadar bahwa kita adalah mahluk
yang lemah dan tak punya apa-apa. Semua hanya titipan dan yang kekal adalah
dunia akhirat.
Artinya, ketika
ada slayer ajakan sholat istisqo` itu artinya pengurus NU mengajak seluruh kaum
muslimin untuk menghentikan semua perbuatan yang mengakibatkan kemungkaran dan
kerusakan di muka bumi ini. Selain itu, slayer ajakan sholat istisqo` juga
mengajak kita untuk banyak beristigfar, bersyukur, dan bertaubat. Kembali kita
hamparkan sajadahkan, kita putar kembali tasbih kita, kita buka kembali
lembaran alqur`an kita dan kita basahi kembali bibir kita untuk mendekatkan
diri kita kepada Allah SWT.
Akhirnya, hujan
memang tujuan daripada sholat istisqo` yang dianjurkan dan diajarkan oleh
Baginda Nabi Muhammad SAW tapi jangan lupa dibalik itu ada makna yang amat
mendalam agar semua makluk melakukan intropeksi diri untuk menjadi hamba yang
beriman dan bertaqwa. (Holi)

Posting Komentar