google-site-verification=gycwghxx1WVc3EROmS2Lq-70455bSR15dF_xantNC5Y TAK KUNJUNG TURUN HUJAN: NU PONTURA SHOLAT ISTISQO` PART II

TAK KUNJUNG TURUN HUJAN: NU PONTURA SHOLAT ISTISQO` PART II

 oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I

Muhammad Said Ramadhan As`ary bin Holi Hamidin Bin Sudi Bin Said Al-Sampangi, bertanya kepada ayahnya yang menjadi imam sholat sunnah istisqo`. Sambil memegang Hp-nya, ia bertanya, “orang kan butuh air bersih Bi, kok malah sholat?” katanya. Saya yang mendengar ini menyimpulkan beberapa tujuan dan jawaban.

Menurut saya, pertanyaan putra saya itu mengandung dua makna. Makna pertama, penolakan sebagai bentuk protes; sedangkan makna kedua adalah mengkerdilkan makna sholat istisqo` yang disimbolkan dengan kalimat ’orang kan butuh air bersih’. Yang bermaksud dari kalimat itu adalah musibah ini hendaknya diatasi dengan membagikan dan mencarikan air bersih kepada warga.

Namun demikian, saya mengartikan pertanyaan putra pertama saya ini dengan pernyataan yang memiliki tujuan supaya ayahnya yang lemah ini melakukan hal yang lebih konkrit dan lebih bermanfaat yang kiranya dapat dirasakan dan berdampak oleh masyarakat. Yang kedua, pertanyaan ini mengandung pengungkapan ketidak-tahuannya atau ia benar-benar ingin mengetahui makna secara haqiqi sholat sunnah istisqo`. Oleh karena itu pada saat itu juga dan saya jawab dengan dua jawaban pula dengan pendekatan bil hikmah wal mauidhotul hasanah.

Jawaban pertama tentang mengapa sholat sunnah Istisqo`?

Jika itu yang harapkan anak pertamaku Said. Tentu itu ide yang baik dan benar. Tentu saya mengapresiasinya. Anak sekecil itu sudah memiliki simpati. Responsibility yang ada dalam dirinya menunjukkan kemampuan bermasyarakat, bernegara dan berbangsa. Ideologi yang sampaikan oleh Baginda Nabi Muhammad tentang menjaga dan saling menghormati antar sesama mahluk diterima dengan baik. Namun demikian, apa yang dilakukan oleh Pengurus NU Pontianak Utara dan PRNU Siantan Tengah sudah sangat tepat. Keterwakilan mereka sebagai ulama penerus baginda Nabi Muhammad SAW, sholat sunnah istisqo` adalah pilihan yang paling baik dan benar. Sudah menjadi tugas para ulama dan santri menjaga dan memegang teguh sunnah nubuwah yang diwariskan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan dalil-dalil mutawattir yang berasal dari kitab-kitab mu`tabarah, memilih sholat sunnah istisqo` ketika bumi telah lama tak diguyur hujan, lalu kemudian memunculkan musibah-musibah berkelanjutan dan beraneka ragam, adalah pilihan yang dipilih oleh Baginda Nabi Muhammad SAW. Kemudian dilanjutkan oleh para sahabatnya dan para pengikut-pengikutnya sejak lama.

Itu artinya, sholat sunnah istisqo` dilakukan sebagai bentuk penghambaan dalam melaksanakan sunnah-sunnah baginda Nabi Muhammad SAW. Tentu pertanyaan kritisnya, ketika ada yang mengkerdilkan penyelenggaraan sholat istisqo` saat telah lama tak turun hujan, yaitu mengapa Nabi Muhammad SAW lebih menganjurkan sholat Istisqo` ketimbang memerintahkan sahabatnya pada saat itu untuk menyiapkan air bersih? Tentu Rasulullah SAW lebih memahami dan mengetahui.

Pertanyaan kedua apa makna ajakan sholat Istisqo`?

Jika kita menelaah anjuran-anjuran yang harus dilakukan terlebih dahulu sebelum sholat istisqo` dan hikmah dibalik itu semua, maka kita menyadari makna yang terkandung dari ajakan sholat istisqo tersebut. Jika boleh saya menyumbang jawaban. Tentu ini berasal dari akal logika saya pribadi.

Ajakan untuk melaksanakan sholat istisqo` itu ada dua makna. Pertama adalah bermakna peringatan. Kedua adalah bermakna penyerahan diri/penghambaan. Ketiga adalah bermakna persaksian akan sifat kehendak dan kekuasaan Allah SWT. Yang dimaksud makna peringatan maksudnya yaitu mengingatkan kita akan kekhilafan kita, kelalaian kita, kesombongan kita, keangkuhan kita, kecerobohan kita, dan kemalasan kita. Kekhilafan kita selama ini yang seakan-akan semua nikmat yang kita nikmati adalah hasil jeri payah pribadi tanpa bantuan Allah. Kelalaian kita pada tiap-tiap kewajiban. Kesombongan kita yang muncul karena kelebihan yang kita miliki. Keangkuhan kita atas segala usaha dan ikhtiar yang dilakukan hingga melupakan kewajiban. Kecerobohan pada tiap nikmat yang lupa disyukuri. Kemalasan kita pada perintah Allah SWT dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Yang dimaksud makna penyerahan diri/penghambaan adalah taubatan nasuhaa. Kita kosongkan hati dan pikiran kita serta perbuatan kita dari sifat-sifat tercela dan mengisinya dengan sifat-sifat terpuji. Kita menyadari bahwa semua yang terjadi dan yang akan terjadi adalah berkat kasih sayang Allah SWT. Sedangkan yang dimaksud dari makna persaksian akan sifat dan kekuasaan Allah SWT adalah menyadari bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Esa sedangkan kita adalah seorang hamba yang benar-benar lemah. Tak ada kekuatan dan kemampuan tanpa pertolongan Allah SWT. Apa yang terjadi adalah atas idzin Allah. Kita sadar bahwa kita adalah mahluk yang lemah dan tak punya apa-apa. Semua hanya titipan dan yang kekal adalah dunia akhirat.

Artinya, ketika ada slayer ajakan sholat istisqo` itu artinya pengurus NU mengajak seluruh kaum muslimin untuk menghentikan semua perbuatan yang mengakibatkan kemungkaran dan kerusakan di muka bumi ini. Selain itu, slayer ajakan sholat istisqo` juga mengajak kita untuk banyak beristigfar, bersyukur, dan bertaubat. Kembali kita hamparkan sajadahkan, kita putar kembali tasbih kita, kita buka kembali lembaran alqur`an kita dan kita basahi kembali bibir kita untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT.

Akhirnya, hujan memang tujuan daripada sholat istisqo` yang dianjurkan dan diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW tapi jangan lupa dibalik itu ada makna yang amat mendalam agar semua makluk melakukan intropeksi diri untuk menjadi hamba yang beriman dan bertaqwa. (Holi)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama