oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I
Hari pelaksanaan Sholat Istisqo` yang diselenggarakan oleh PRNU Siantan
Tengah melalui Ust. Nuhad Ali Wafa akan dilaksanakan. Jemaah pun telah bersiap di rumahnya masing-masing
menuju lapangan MDS Nurul Jadid. Namun, beberapa menit sebelum saf-saf sholat
sunnah Istisqo` dirapatkan di lapangan, langit Pontianak Utara yang tadinya
pekat oleh asap hitam perlahan berubah menjadi gumpalan awan mendung yang
menyejukkan. Dan tanpa diduga, bulir-bulir air dari langit mulai
menetes, kian lama kian lebat, hingga mengguyur seluruh wilayah Pontianak
Utara.
Hujan lebat turun dengan sangat derasnya, membawa hawa
dingin dan menghapuskan kabut asap yang telah berminggu-minggu menyiksa warga.
Sholat sunnah Istisqo` yang telah direncanakan dengan matang akhirnya batal
dilaksanakan secara fisik. Namun, tak ada satupun wajah kecewa di sana—yang ada
hanyalah senyum kebahagiaan, wujud rasa syukur, dan derai air mata haru dari
warga serta para jemaah.
Kejadian ini
memberikan kita pelajaran yang sangat berharga. Secara syariat, sholatnya
memang tidak jadi digelar karena sebab utama sholat tersebut—yakni ketiadaan
air—telah diangkat oleh Allah SWT sebelum ibadah dimulai. Namun, apakah ikhtiar
dan niat baik warga menjadi sia-sia? Tentu tidak.
Sebelum hari
H pelaksanaan, pengurus MWCNU Pontianak Utara dan PRNU Siantan Tengah bersama
warga Nahdliyyin telah melakoni rangkaian ikhtiar batin yang sungguh luar biasa.
Yaitu Pertama, Perasaan Bersalah dan Bertaubat: Merasa bersalah atas
segala khilaf, banyak mengagungkan istighfar, bertaubat, serta menyucikan hati.
Berpuasa Tiga Hari Berturut-turut: Menjalankan puasa sunnah sebagai
bentuk tirakat dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT.
Di tempat lain, dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan oleh
jemaah Sholawat Nariyah. Ijazah amalan ini didapatkan langsung dari KHR.
Muhammad Kholil As`ad kepada Bapak Muhammad Fauzi, S. Sos, yang kemudian
dibagikan melalui WhatsApp Group (WAG) jemaah Sholawat Nariyah untuk diamalkan
bersama secara berjemaah.
Ketulusan
niat, kerendahan hati untuk bertaubat, serta ikhtiar batin masyarakat rupanya
telah mendahului pelaksanaan sholat itu sendiri. Allah SWT Maha Mendengar dan
Maha Melihat. Sebelum dahi-dahi kita menempel di atas sajadah lapangan, Allah
telah mengabulkan hajat dan doa hamba-Nya yang berserah diri.
Sebagai
bentuk rasa syukur atas keberkahan dan hujan yang melimpah ini, agenda sholat
Istisqo` diganti dengan pelaksanaan majelis istighosah dan doa bersama pada
malam harinya dalam suasana penuh kebahagiaan. Warga berkumpul bukan lagi untuk
meminta hujan, melainkan untuk melantunkan pujian dan rasa terima kasih yang
mendalam atas rahmat-Nya.
Peristiwa ini
kembali menjawab pertanyaan putra saya, Said: bahwa dalam setiap anjuran
ibadah, yang paling utama adalah proses penghambaan, penyerahan diri, dan
keikhlasan hati. Hujan adalah bonus dari kasih sayang-Nya, sedangkan taubat dan
kesadaran diri adalah inti dari setiap ujian kehidupan. (Holi)

Posting Komentar