google-site-verification=gycwghxx1WVc3EROmS2Lq-70455bSR15dF_xantNC5Y TAK KUNJUNG TURUN HUJAN: MAU SHOLAT, TAPI HUJAN DERAS DATANG! Part 3

TAK KUNJUNG TURUN HUJAN: MAU SHOLAT, TAPI HUJAN DERAS DATANG! Part 3

 oleh: Holi Hamidin, S. Pd. I


Hari pelaksanaan Sholat Istisqo` yang diselenggarakan oleh PRNU Siantan Tengah melalui Ust. Nuhad Ali Wafa akan dilaksanakan. Jemaah pun telah bersiap di rumahnya masing-masing menuju lapangan MDS Nurul Jadid. Namun, beberapa menit sebelum saf-saf sholat sunnah Istisqo` dirapatkan di lapangan, langit Pontianak Utara yang tadinya pekat oleh asap hitam perlahan berubah menjadi gumpalan awan mendung yang menyejukkan. Dan tanpa diduga, bulir-bulir air dari langit mulai menetes, kian lama kian lebat, hingga mengguyur seluruh wilayah Pontianak Utara.

Hujan lebat turun dengan sangat derasnya, membawa hawa dingin dan menghapuskan kabut asap yang telah berminggu-minggu menyiksa warga. Sholat sunnah Istisqo` yang telah direncanakan dengan matang akhirnya batal dilaksanakan secara fisik. Namun, tak ada satupun wajah kecewa di sana—yang ada hanyalah senyum kebahagiaan, wujud rasa syukur, dan derai air mata haru dari warga serta para jemaah.

Kejadian ini memberikan kita pelajaran yang sangat berharga. Secara syariat, sholatnya memang tidak jadi digelar karena sebab utama sholat tersebut—yakni ketiadaan air—telah diangkat oleh Allah SWT sebelum ibadah dimulai. Namun, apakah ikhtiar dan niat baik warga menjadi sia-sia? Tentu tidak.

Sebelum hari H pelaksanaan, pengurus MWCNU Pontianak Utara dan PRNU Siantan Tengah bersama warga Nahdliyyin telah melakoni rangkaian ikhtiar batin yang sungguh luar biasa. Yaitu Pertama, Perasaan Bersalah dan Bertaubat: Merasa bersalah atas segala khilaf, banyak mengagungkan istighfar, bertaubat, serta menyucikan hati. Berpuasa Tiga Hari Berturut-turut: Menjalankan puasa sunnah sebagai bentuk tirakat dan penyerahan diri secara total kepada Allah SWT.

Di tempat lain, dilaksanakan dengan penuh kekhusyukan oleh jemaah Sholawat Nariyah. Ijazah amalan ini didapatkan langsung dari KHR. Muhammad Kholil As`ad kepada Bapak Muhammad Fauzi, S. Sos, yang kemudian dibagikan melalui WhatsApp Group (WAG) jemaah Sholawat Nariyah untuk diamalkan bersama secara berjemaah.

Ketulusan niat, kerendahan hati untuk bertaubat, serta ikhtiar batin masyarakat rupanya telah mendahului pelaksanaan sholat itu sendiri. Allah SWT Maha Mendengar dan Maha Melihat. Sebelum dahi-dahi kita menempel di atas sajadah lapangan, Allah telah mengabulkan hajat dan doa hamba-Nya yang berserah diri.

Sebagai bentuk rasa syukur atas keberkahan dan hujan yang melimpah ini, agenda sholat Istisqo` diganti dengan pelaksanaan majelis istighosah dan doa bersama pada malam harinya dalam suasana penuh kebahagiaan. Warga berkumpul bukan lagi untuk meminta hujan, melainkan untuk melantunkan pujian dan rasa terima kasih yang mendalam atas rahmat-Nya.

Peristiwa ini kembali menjawab pertanyaan putra saya, Said: bahwa dalam setiap anjuran ibadah, yang paling utama adalah proses penghambaan, penyerahan diri, dan keikhlasan hati. Hujan adalah bonus dari kasih sayang-Nya, sedangkan taubat dan kesadaran diri adalah inti dari setiap ujian kehidupan. (Holi)


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama