NU PONTURA PONTIANAK – Antusiasme tinggi menyelimuti hari kedua agenda Peningkatan Kompetensi Kepala Sekolah dan Guru SLB se-Kalimantan Barat yang berlangsung di Aula Bilik Barage, Jumat (8/5/2026). Fokus materi mengenai penulisan buku menjadi daya tarik utama bagi para peserta yang ingin mengabadikan pengalaman pedagogis mereka ke dalam bentuk karya tulis.
Salah satu peserta, Holi Hamidin, S.Pd.I, mengungkapkan pentingnya membangun konsistensi dalam dunia literasi bagi seorang pendidik.
"Saya senang dapat mengikuti kegiatan ini, khususnya pada materi tentang tulis-menulis. Menulis adalah hal yang mudah dilakukan, tapi sulit menjadi sebuah kebiasaan," ujar beliau di sela-sela kegiatan.
Wadah Karya untuk Masyarakat dan Pemangku Kebijakan
Harapan besar juga disematkan pada output dari pelatihan ini. Tidak sekadar memahami teknis menulis, para guru berharap ada tindak lanjut nyata berupa platform yang mampu menampung pemikiran dan kreativitas mereka.
Dewi Triyani, S.P, selaku Kepala SLB Negeri Mempawah yang juga hadir sebagai peserta, menekankan bahwa karya tulis guru SLB dapat menjadi jembatan komunikasi antara dunia pendidikan khusus dengan masyarakat luas dan pemerintah.
"Harapan saya, pada agenda ini akan terbit wadah yang dapat mengelola hasil karya guru SLB se-Kalimantan Barat. Sehingga informasi berkaitan dengan anak-anak disabilitas dapat diserap oleh masyarakat awam," jelas Dewi.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa publikasi karya ini memiliki nilai strategis untuk menarik perhatian para pemangku kepentingan. "Kreativitas para guru SLB diharapkan dapat menarik perhatian aparatur negara, baik di tingkat yudikatif, legislatif, maupun eksekutif," pungkasnya.
Digitalisasi dan Masa Depan Pendidikan Khusus
Selain literasi, para peserta juga mendalami penggunaan Aplikasi Srikandi sebagai bagian dari transformasi administrasi digital. Sinergi antara kemampuan menulis kreatif dan penguasaan administrasi modern diharapkan mampu meningkatkan posisi tawar serta mutu layanan pendidikan bagi peserta didik berkebutuhan khusus di Kalimantan Barat secara berkelanjutan.
Kegiatan yang diinisiasi oleh MKKS PK Kalbar ini menjadi langkah konkret dalam memastikan bahwa suara para pendidik dan anak-anak disabilitas tidak hanya terdengar di dalam kelas, tetapi juga bergema melalui karya yang dapat diakses oleh publik.
Posting Komentar