Di tengah hiruk pikuk suasana Iduladha tersebut, saya memulai hari dengan kembali mempelajari dan mengulang materi khutbah yang akan saya sampaikan di Masjid Nurul Fajri. Sebuah amanah yang bagi saya bukan sekadar tugas biasa, melainkan kehormatan besar yang patut disyukuri.
Amanah itu diberikan oleh pengurus Masjid Nurul Fajri perantara Katib Syuriyah PWNU Kalimantan Barat, seorang tokoh agama yang sangat dihormati dan memiliki pengaruh besar di lingkungan masjid tersebut. Kepercayaan yang beliau berikan menjadi motivasi tersendiri bagi saya untuk mempersiapkan khutbah dengan sungguh-sungguh, sebab setiap kata yang disampaikan di atas mimbar sejatinya bukan hanya untuk didengar, tetapi juga untuk direnungkan dan diamalkan.
Tema khutbah yang diamanahkan kepada saya adalah “Meneladani Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.” Tema yang sangat relevan dengan makna Iduladha, karena di dalamnya terkandung pelajaran tentang keikhlasan, pengorbanan, keteguhan iman, serta kepatuhan seorang hamba kepada Rabb-nya. Allah SWT berfirman:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الْأَلْبَابِ
“Sungguh, pada kisah-kisah mereka terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Yusuf: 111)
Dalam khutbah tersebut, saya mencoba mengajak jamaah untuk memahami bahwa kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail bukan sekadar cerita sejarah yang dibacakan setiap tahun, melainkan pelajaran hidup yang terus relevan sepanjang zaman. Nabi Ibrahim mengajarkan arti pengorbanan dan ketulusan cinta kepada Allah di atas segala-galanya, sedangkan Nabi Ismail menunjukkan keteladanan dalam ketaatan, kesabaran, dan penghormatan kepada orang tua.
Iduladha juga mengajarkan kepada kita bahwa masa lalu bukan untuk disesali tanpa arah, tetapi untuk dijadikan pelajaran demi memperbaiki masa depan. Kesalahan, ujian, dan pengalaman hidup seharusnya menjadi motivasi untuk memperkokoh iman dan memperbaiki amal di hari-hari mendatang. Sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Usai khutbah dan pelaksanaan salat Iduladha, suasana hangat penuh persaudaraan terasa melalui salam-salaman dan ramah tamah bersama jamaah. Saya juga berkesempatan berbincang dan menyimak nasihat dari KH. Zain Muchsin serta Kyai Mukhtarul Aziz di kediamannya sejak pukul 07.00 hingga 08.00 pagi. Dengan penuh hormat saya mendengarkan berbagai cerita dan pandangan mereka tentang kehidupan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kedua tokoh ini, selain eksekutor (penyembelih), juga merupakan bagian dari shohibul qurban yang disebutkan oleh jubir masjid dalam pelaksanaan kurban tahun ini. Setelah itu kami bersama-sama menuju masjid untuk menyaksikan prosesi penyembelihan hewan kurban yang terdiri dari lima ekor sapi dan tiga ekor kambing. Di situlah saya kembali merasakan bahwa Iduladha bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan momentum pendidikan jiwa dan sosial yang sangat besar nilainya.
Entah sejak kapan, saya mulai mengubah kebiasaan keluarga kami setiap Iduladha. Dahulu, keluarga kami biasa berziarah ke makam para sesepuh dan bersilaturahmi ke rumah kakek dan nenek di Sungai Durian. Tradisi itu tentu baik dan penuh nilai penghormatan kepada keluarga. Namun perlahan saya merasa ada hal lain yang juga penting untuk ditanamkan kepada anak-anak sejak dini, yaitu menyaksikan langsung prosesi ibadah kurban.
Saya ingin mereka memahami bahwa Iduladha bukan hanya tentang pakaian baru, makanan enak, atau hari libur, tetapi tentang bagaimana manusia belajar ikhlas, berbagi, dan peduli terhadap sesama. Karena itu saya mengajak mereka menyaksikan proses penyembelihan, pembagian daging, hingga melihat bagaimana masyarakat saling membantu satu sama lain. Saya berharap pengalaman itu tertanam kuat dalam ingatan mereka hingga dewasa nanti. Allah SWT berfirman:
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ
“Daging-daging dan darah hewan kurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan kalianlah yang sampai kepada-Nya.” (QS. Al-Hajj: 37)
Saya berharap suatu hari nanti anak-anak saya tidak lagi hanya menjadi penonton dalam setiap datangnya Iduladha, tetapi menjadi bagian dari orang-orang yang terlibat dalam syiar kurban: membantu proses penyembelihan, mendistribusikan daging kepada masyarakat, melayani orang-orang yang membutuhkan, bahkan bila Allah memampukan mereka menjadi shohibul qurban. Sebab di dalam ibadah kurban terdapat nilai kemanusiaan yang sangat tinggi, sejalan dengan ajaran rahmatan lil ‘alamin yang diwariskan oleh Nabi Ibrahim ‘alaihissalam dan diteruskan oleh Muhammad ﷺ kepada umatnya.
Saya juga ingin mengajarkan kepada mereka bahwa saudara bukan hanya orang yang memiliki hubungan darah, tetapi juga setiap muslim yang mengucapkan kalimat syahadat dan setiap manusia yang membutuhkan pertolongan sosial. Rasulullah ﷺ bersabda:
« مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ الْوَاحِدِ »
“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi adalah seperti satu tubuh.” (HR. Muhammad al-Bukhari dan Muslim ibn al-Hajjaj)
Pada akhirnya, Iduladha bukan hanya tentang hewan yang disembelih, tetapi tentang ego yang dikalahkan, keikhlasan yang ditumbuhkan, dan kepedulian yang dihidupkan kembali. Dari Nabi Ibrahim kita belajar tentang keteguhan iman, dari Nabi Ismail kita belajar tentang ketaatan, dan dari Iduladha kita belajar bahwa manusia terbaik bukanlah mereka yang hanya menikmati nikmat Allah, tetapi mereka yang mampu menjadi manfaat bagi sesama. (Holi)
Posting Komentar